Harga Emas Antam Anjlok Lagi ke Rp2,893 Juta per Gram pada 20 Maret 2026, Ikuti Koreksi Emas Dunia di Bawah US$4.600 per Ounce
Harga emas dunia dan domestik mengalami fluktuasi signifikan sepanjang Maret 2026, dengan tren yang menunjukkan volatilitas tinggi akibat ketegangan geopolitik berkelanjutan dan dinamika pasar keuangan global.
Pada Jumat, 20 Maret 2026 (per pukul sekitar 11.54 WIB), harga emas Antam (Logam Mulia) tercatat di kisaran Rp 2.893.000 – Rp 2.925.000 per gram untuk ukuran 1 gram (tergantung penyedia seperti Logam Mulia, Pegadaian, atau Galeri 24, termasuk variasi pajak dan buyback). Harga ini turun tajam dibandingkan hari sebelumnya (Rp 2.943.000 – Rp 3.101.000 per gram), dengan penurunan mencapai Rp 50.000 – Rp 54.000 per gram. Untuk ukuran kecil seperti 0,5 gram, harga berada di sekitar Rp 1.576.000, sementara buyback (harga jual kembali) Antam di Pegadaian sekitar Rp 2.771.000 per gram, menciptakan spread lebar hingga Rp 278.000.
Di pasar global, harga spot emas bergerak di level sekitar US$ 4.570 – US$ 4.693 per troy ounce pada 20 Maret 2026 (dengan fluktuasi harian turun sekitar 1-3% dari level sebelumnya), setelah koreksi dari puncak sebelumnya yang sempat mendekati US$ 5.000 – US$ 5.600 di awal Maret. Penurunan ini mencapai hingga 3-9% dalam beberapa pekan terakhir, termasuk koreksi tajam setelah lonjakan sementara akibat isu penutupan Selat Hormuz dan konflik di Timur Tengah.
Faktor Utama Fluktuasi Harga Emas Maret 2026
Beberapa pemicu utama yang memengaruhi pergerakan harga:
-
Ketegangan Geopolitik: Konflik berkelanjutan di Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan jalur minyak dan eskalasi militer, awalnya mendorong kenaikan harga sebagai aset safe haven. Namun, setelahnya muncul penguatan dolar AS dan aksi ambil untung (profit-taking) yang menekan harga turun.
-
Kebijakan Moneter & Inflasi: Harapan pengetatan suku bunga oleh bank sentral (termasuk The Fed) akibat inflasi yang masih tinggi, ditambah imbal hasil Treasury yang naik, membuat investor beralih sementara dari emas ke aset berimbal hasil.
-
Permintaan Bank Sentral & Pasokan Terbatas: Meski ada koreksi, permintaan bank sentral global tetap kuat sebagai bagian dari diversifikasi cadangan (de-dolarisasi). Pasokan tambang yang mendatar juga mendukung harga jangka panjang.
-
Dinamika Pasar Jangka Pendek: Aksi jual massal oleh trader institusional dan rebalancing portofolio menyebabkan penurunan mingguan terbesar dalam beberapa dekade, meski tren bullish secara keseluruhan masih dianggap intact oleh banyak analis.
Prospek ke Depan
Meski mengalami koreksi di Maret, banyak analis tetap optimistis. Prediksi dari lembaga seperti JPMorgan, UBS, dan Deutsche Bank menargetkan harga emas bisa kembali ke US$ 5.500 – US$ 6.300 per ounce hingga akhir 2026, didorong oleh ketidakpastian ekonomi global, risiko inflasi, dan permintaan safe haven yang terus meningkat. Di Indonesia, harga emas Antam diperkirakan tetap fluktuatif namun cenderung mengikuti tren global dengan premium lokal yang dipengaruhi nilai tukar rupiah.
Bagi investor ritel, periode volatilitas ini bisa menjadi kesempatan untuk akumulasi, terutama jika melihat emas sebagai lindung nilai jangka panjang. Namun, pantau terus perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS, karena faktor-faktor tersebut masih menjadi penentu utama arah harga emas ke depan.
Archives
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | 31 | |||||